Malekke Wae Awali Peringatan HJL-HPRL, Mendinginkan Negeri

  • Bagikan
Arak-arakan rombongan mengambil air (Malekke Wae) dari Lampenai, Kec. Bua, melintasi Jalan Andi Djemma Kota Palopo menuju Istana SalassaE Kedatuan Luwu, Senin 19 Januari 2026.

KATARAKJAT.COM, PALOPO — Peringatan Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) Ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) Ke-80 yang dipusatkan di Istana Datu Luwu diawali dengan proses adat Malekke Wae atau yang berarti mengambil air.

Proses adat ini dilakukan, Senin 19 Januari, kemarin.
Makna Malekke Wae secara harfiah berarti mengambil air. Ini adalah bagian dari ritual Mappacekke Wanua (mendinginkan negeri) yang bertujuan memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi Tanah Luwu.
Pada Tahun ini, lokasi pengambilan air berada di Turungan Datu Lampenai Desa Tana Rigella, Kec. Bua, Kab. Luwu.

Opu To Sulolipu, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja saat diwawancara Palopo Pos, usai proses Malekke Wae mengungkapkan, ini bagian dari Mappacekke Wanua yang sumber airnya diambil dari tiga mata air suci di Tana Luwu, yakni Cerekang (Luwu Timur), Lampenai (Luwu), dan Manjapai (Kolaka Utara). Lantaran tahun ini waktu pelaksanaan jelang hari H, sudah sangat mepet, maka hanya air dari Lampenai Bua yang diambil.

Prosesi pengambilan air dilakukan secara ritual adat oleh Puang Angkuru. Pengantaran air dilakukan dengan prosesi adat dengan kawalan pasukan berbaju adat dan iringan bendera dan gendang. Air diusung menuju Istana Kedatuan Luwu sebagai pusat kegiatan hajatan. Air diletakkan pada tempat khusus guna menjalani prosesi Maddojaroja.

Air yang telah diambil kemudian dibawa/diarak dengan upacara adat menuju tempat disemayamkan atau lokasi utama peringatan di Istana SalassaE.
Usai proses Malekke Wae, kemarin sorenya dilanjutkan dengan ziarah ke Makan Datu Patimang di Malangke, Luwu Utara.

Sementara itu, pada hari kedua, Selasa 20 Januari kembali dilanjutkan ziarah ke makam Datu Luwu di LokkoE Kota Palopo dan makam Datu Luwu di TMP Panaikang, Makassar. Usai melakukan ziarah dilanjutkan MADDOJA ROJA / MATTEMMU LAHOJA. Yaitu, prosesi pembacaan Hatmul Hauja mensucikan air yang akan digunakan untuk ritual Mappacakke wanua. Hatmul Hauja adalah wirid yang disusun oleh Datuk Sulaiman penyebar Islam pertama di Luwu.

Pembacaan hatmul hauja dipimpin oleh Kadhi Luwu, dan pendamping.
Hari Ketiga, Rabu 21 Januari 2026, dilakukan prosesi adat Mappesabbi. Yakni, penyampaian maksud dan tujuan hajat pelaksanaan kegiatan dan Tudang Ade yang berisi Mappalebba. Yakni prosesi pengumuman dari Kedatuan Luwu mengenai sebutan atau gelaran adat “Pattuppu Batu” bagi Kepala Daerah di Luwu Raya.

Terus prosesi Maddarari yakni penyampaian aspirasi masyarakat secara adat di Luwu yang diwakili oleh Perwakilan Camat dan Desa kepada Datu Luwu dan Bupati/ Walikota mengenai banyak hal salah satunya adalah dukungan untuk memfasilitasi terwujudnya pembentukan Provinsi Luwu Raya. Dan, rapat adat “mappasiduppa tangga” atau rapat dengar pendapat mempertemukan pandangan dari sudut pandang berbeda terhadap satu hal yakni mengenai upaya upaya percepatan pembentukan Provinsi Luwu Raya, Peluang, dan Tantangan.

Pada Rabu sore, dilanjutkan pembukaan pameran Bassi Pusaka oleh komunitas pemerhati besi pusaka “Pommpessi” serta pembukaan lomba-lomba seni dan pasar murah di halaman depan Istana Kedatuan Luwu.
Pada malam hari sejumlah Raja dan Sultan se-Nusantara yang hadir dijamu dalam acara Jamuan Agung makam malam bersama para Raja dan Sultan Nusantara anggota FSKN, sekaligus silaturahmi Raja Sulthan Nusantara dengan Kedatuan Luwu dan Kepala
Daerah/FORKOFIMDA yang diisi fashion Show anggota FSKN.

Hari keempat, Kamis 22 Januari 2026, diisi Sarasehan KKLR berupa SILATNAS WTL II Kerukunan Keluarga Luwu Raya bersama Perguruan Tinggi. Ada juga pembukaan Cerdas Cermat antar SMA/SMK se-Kota Palopo tentang budaya. Di waktu yang sama di Baruga Opu Tomarimari dilakukan proses adat Mattombang Bassi yakni membersihkan benda-benda pusaka dari besi secara adat. Dilanjutkan Kirab Benda Pusaka kedatuan usai dibersihkan diikuti oleh komunitas pemerhati lengkap dengan kebesarannya masing masing.

Pada Kamis malam diisi dengan musyawarah internal Forum Raja Sultan Nusantara lalu, pengukuhan pengurus Forum Masyarakat
Bumi Sawerigading dan pentas seni dan budaya dari perwakilan Kabupaten Luwu dan Pemda lainnya, serta perwakilan Sanggar Budaya di halaman Istana Kedatuan.

Hari Kelima, Jumat 23 Januari 2026 adalah puncak acara berupa MAKKASIWIANG / MABBALI SUMANGE. Yakni, prosesi penyampaian hasil bumi/laut/tanah dari masyaraakat dan perwakilan Pemda Luwu kepada Datu Luwu dan Bupati/Walikota. Mappangolo Lise Rakki

Prosesi menghadapkan isi rakki kehadapan Datu oleh Perwakilan Daerah dan Mappasisele Lise Rakki, prosesi pertukaran isi rakki kepada perwakilan Pemerintah Daerah.

Kemudian dilanjutkan proses Manre Saperra yaitu, makan bersama melepaskan nazar atau hajat dengan cara makan di atas saperra yakni bentangan kain panjang sebagai simbol kesetaraan.
Pada Jumat malam sebagai puncak peringatan HJL-HPRL di Istana Kedatuan Luwu diisi doa, atraksi/hiburan, laporan, pembacaan riwayat singkat, sambutan-sambutan, dan Luwu Award.

Hari Keenam, Sabtu 24 Januari 2026 diisi Panggung Pesta Rakyat yakni, panggung hiburan diisi oleh penampilan sanggar seni dari keterwakilan daerah/Pemda serta Beppa To Riolo, tradisi pesta rakyat dengan menghadirkan panganan tradisional sebagai ungkapan suka ria.

Hari Ketujuh, Ahad 25 Januari 2026, diisi MANNGEPPI WAE yakni, prosesi dan ritual membersihkan dan mendinginkan negeri dan sebagai pertanda telah selesainya menggelar hajat.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *