KATARAKJAT.CO.ID, JAKARTA — Badan POM ikut mengawasi langsung kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk yang mulai berjalan di Kota Palopo.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa MBG adalah kerja strategis yang membutuhkan dukungan semua pihak.
“BPOM hadir melalui dukungan teknis, mulai dari penyusunan pedoman mitigasi, pendampingan SPPG, pengawasan keamanan pangan, hingga pengujian laboratorium. Kami juga melakukan pengawasan rantai pasok dan distribusi serta peningkatan kompetensi SDM [sumber daya manusia] agar pangan yang sampai ke masyarakat terjamin mutunya,” ujarnya, Selasa 9 September di Jakarta.
Taruna menambahkan, MBG merupakan investasi jangka panjang bangsa. “MBG bukan sekadar program bantuan, tetapi bagian dari pembangunan kesehatan dan pendidikan. Jika generasi muda kita sehat dan cerdas, maka fondasi Indonesia Emas 2045 akan semakin kuat,” tegasnya.
Selanjutnya pada sesi talkshow, Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha BPOM Agus Yudi Prayudana menjadi narasumber bersama 2 narasumber lainnya, yaitu Sekretaris Deputi Tata Kelola BGN Ermia Sofiyessi dan Direktur Jenderal Pemeriksaan Keuangan Negara 8, Badan Pemeriksa Keuangan Bachtiar Arief. Ketiga narasumber mendiskusikan mengenai Program MBG, audit bantuan pemerintah serta keamanan, dan kualitas MBG.
Yudi menjelaskan tentang aspek teknis penggunaan bahan pangan, khususnya bumbu dapur, sebagaimana diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2024 tentang Pedoman Penerbitan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga. Menurutnya, tidak semua bumbu bisa memperoleh izin pangan industri rumah tangga (PIRT).
“Bumbu siap pakai, seperti bumbu rendang, gulai, atau bumbu tabur bisa mendapatkan SPP-IRT. Namun, produk tunggal seperti lada bubuk atau kunyit bubuk tidak bisa karena dikategorikan sebagai pangan segar asal tumbuhan (PSAT),” jelas Yudi.
Yudi menekankan bahwa keamanan pangan adalah komitmen utama. Setelah nomor P-IRT terbit, pelaku usaha wajib mengikuti penyuluhan keamanan pangan, menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB-IRT), menggunakan bahan tambahan pangan yang sesuai, serta memenuhi ketentuan label. BPOM juga aktif memberikan pendampingan dan edukasi kepada para pelaku usaha kecil dan menengah yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi.
“Semua ini penting agar produk yang digunakan dalam MBG benar-benar aman, bermutu, dan bermanfaat,” tambahnya.
Inspektur Utama Badan Gizi Nasional (BGN) Jimmy Alexander Adirman menyampaikan sambutan mewakili Kepala BGN. Jimmy sekaligus menyampaikan paparan mengenai akuntabilitas pelaksanaan MBG dan dinamika permasalahan di lapangan.
Sementara Ermia Sofiyessi dari BGN mengulas mengenai fokus BGN dalam mengawal program MBG yang diutamakan di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).
“6.000 dapur kita targetkan di daerah-daerah 3T yang akan dibangun oleh BGN. Ini yang kita fokuskan, untuk mendukung daerah-daerah 3T, di mana mungkin mitra tidak bisa berkesempatan di sana,” jelasnya.
Pada sesi diskusi, salah seorang peserta menanyakan mengenai penggunaan bumbu saji hasil P-IRT pada penyediaan pangan MBG. Termasuk tanggapan dari perwakilan BGN mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekonomi lokal, salah satunya melalui pemanfaatan bumbu dapur dari pasar tradisional.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Yudi menyiratkan bahwa di sinilah BPOM berperan dalam menjaga keseimbangan antara mutu pangan dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Melalui kolaborasi BPOM dengan pemerintah, para pengusaha makanan bergizi dapat menghasilkan produk yang tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga berkontribusi membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Melalui momen ini, BPOM berharap adanya komitmen peran serta dan dukungan semua pihak untuk semakin memperkuat pengawasan pangan nasional, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan program MBG. BPOM akan berkontribusi sesuai tugas, fungsi, dan kewenangannya, yaitu memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat dan memastikan bahwa setiap pangan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, bermutu, dan menyehatkan.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo telah meresmikan dapur makanan bergizi gratis (MBG), Ahad 7 September pekan lalu. Peluncuran dapur MBG ini merupakan yang paling pertama di Tana Luwu yang berlokasi di Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo.
Peresmian MBG oleh staf ahli bidang Kesejahteraan Rakyat, (Kesra) Drs. Taufiq Gurrahman, M.Si, yang ditandai pengguntingan pita. Keberadaan dapur ini dikelola Yayasan Niskala Cinta Bangsa.
Dapur MBG ini dikelolah dengan melibatkan puluhan masyarakat sebagai juru masak. Bahkan, ada juga tim khusus yang memastikan tingkat gizi dan kelayakan higienis.
Taufiqurrahman dalam sambutannya menegaskan jika tidak ada pilihan lain selain menyukseskan acara ini. Sinergi dari semua pihak tentu diharapkan menyukseskan dapur MBG ini.
“Tujuannya adalah memberikan garansi kepada seluruh generasi bangsa. Dan hari ini harus dimulai bagaimana anak sekolah terjamin mutu gizinya. Gizi harus terjamin dengan multiplayer efek yang penerapannya harus sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang harus diterapkan. Mengandalkan tenaga kerja lokal dan jaminan kesehatan bagi pekerja.
Dalam mendukung hal itu, ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum ini dengan membantu ketersediaan lain yang diperlukan.
“Penanaman cabai da tomat misalnya bisa dikembangkan dengan membantu ketersediaan pangan dan tentunya berkualitas,” katanya.
Sementara, dari instansi terkait tentunya dapat berperan melakukan kontrol dan yang terpenting agar menghindari kebiasaan buruk dan mencari sisi negatif.
“MBG ini harus sukses di Palopo. Ini yang paling penting dan menjadikan negara Indonesia menjadi maju,” tandas Taufiqurrahman.
Penanggung jawab dapur MBG Wara Selatan, Eli dalam sambutannya pada acara tersebut mengatakan program ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah bersama Badan Gizi Nasional dan mitra-mitranya dalam menghadirkan layanan pangan sehat, aman, dan bergizi untuk masyarakat, khususnya anak-anak, pelajar, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Kami percaya, gizi yang baik adalah fondasi utama bagi lahirnya generasi emas yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.(*)













