KATARAKJAT.CO.ID, PALOPO — Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Kota Palopo mengalami penurunan tahun 2025.
Tercatat pada tahun 2023 lalu, Kota Palopo sempat menduduki posisi kedua tertinggi kasus HIV di Sulawesi Selatan dengan jumlah 148 kasus.
Hal itu diungkapkan San Ashari, Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian penyakit Dinas Kesehetan (Dinkes) Kota Palopo.
Ia menyebut, kasus HIV sepanjang tahun 2024 mengalami penurunan dari 148 menjadi 116 kasus, hingga September 2025 angka menunjukkan menjadi 79 kasus.
“Untuk di Kota Palopo kasus HIV di tahun 2023 sebanyak 148 kasus, kemudian di tahun 2024 agak menurun yaitu sebanyak 116 kasus, hingga September 2025 itu sebanyak 79 kasus, ” katanya.
San Ashari menyebut, pada tahun 2024, Palopo masih tercatat sebagai Kota ketiga dengan jumlah kasus HIV terbesar di Sulawesi Selatan.
“Penyebab tingginya kasus HIV/AIDS di Palopo masih didominasi LGBT atau hubungan seks sesama jenis,” katanya.
Meski begitu, Dinkes Palopo terus melakukan upaya dalam menangani dan mencegah penyakit menular ini.
San Ashari menyebut, pihaknya terus aktif melakukan edukasi serta deteksi dini kepada kelompok beresiko mulai dari tingkat sekolah hingga ke masyarakat secara luas serta melakukan screning di Puskesmas.
“Meski jumlah kasus mengalami penurunan kami tetap aktif dalam melakukan deteksi dini mengedukasi masyarakat, melakukan screning di Puskesmas, dan aktif berinteraksi dengan kelompok beresiko, ” ungkapnya.
San menjelaskan, fenomena LGBT adalah isu sensitif dan tidak bisa diabaikan.
Ia meneyebutkan, identitas gender pada anak sudah mulai terbentuk pada usia 3 tahun. Pada tahap pertumbuhan ini, anak-anak sudah memiliki pemahaman awal mengenai apakah mereka laki-laki atau perempuan.
Namun, kata dia, terdapat faktor yang bisa memengaruhi perubahan dalam identitas gender anak pada tahap ini, salah satunya adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan bisa berdampak pada perubahan identitas gender anak.
Dia pun menegaskan perlunya peran aktif dari orang tua dalam membimbing anak-anak tentang identitas gender mereka. Orang tua harus berperan dalam menjaga hubungan anak dengan lingkungan sekitar, terutama saat mereka mulai bersekolah.
“Ketika masuk fase remaja usia 10 sampai belasan tahun itu adalah fase kritis di mana mereka pada usia 10 tahun tersebut mereka akan mencari identitasnya,” jelasnya.
Namun, dia mengingatkan bahwa banyak remaja yang lebih cenderung mencari solusi tentang permasalahan ini dari teman sebaya dan media digital.(*)













