Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Menurun, Kuartal II 2025, hanya 4,95 Persen

  • Bagikan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda.

 

KATARAKJAT.COM, MAKASSAR – Laju perekonomian Sulawesi Selatan di kuartal ke II 2025 mengalami penurunan diangka 4,95 persen. Pertumbuhan tersebut cenderung lebih rendah jika dibanding kuartal l 2025 diangka 5,75 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda menjelaskan, hal tersebut dipicu berbagai faktor seperti menurunnya konsumsi rumah tangga, penurunan ekspor dan yang utama terjadi penurunan produksi untuk industri pengolahan nikel.

“Konsumsi rumah tangga menurun sebab indeks kepercayaannya konsumen juga menurun. Ditambah kinerja ekspor yang juga ikut menurun di quartal ke dua ini,” pungkas Rizki dalam kegiatan Sulsel Talk bertajuk “Mendorong Akselerasi Ekonomi Sulsel ditengah Ketidakpastian Global,” yang digelar di Kantor BI Sulsel, Selasa (12/8/2025).

“Selain itu Industri pengolahan utamanya nikel terus menurun sebab permintaan secara global juga terus mengalami penurunan. Produksi nikel di dunia mengalami surplus sejak 2023 dan terjadi gap hingga 198. Sementara ekspor nikel juga mengalami hal yang sama dan terjadi oper suplai, permintaan tidak kuat, ekspor menurun diikuti dengan harga yang ikut menurun,” beber Rizki.

Meski demikian, penurunan laju perekonomian menurut dia tidak setajam yang selama ini diprediksi. Investasi menjadi penyelamat dalam kondisi ekonomi yang tak menentu ini.

“Yang naik hanya investasi di Sulsel di mana bobotnya hampir sepertiga atau sebanyak 33 persen . Ini yang perlu kita dorong. Tahun ini diperkirakan sulsel tidak tumbuh tinggi, hanya di kisaran 4,8-5,8 persen,” pungkasnya.

Dalam situasi perekonomian yang mengalami penurunan ini, inflasi Sulsel di bulan Juli ikut mengalami peningkatan diangka 3,05 persen dibanding tahun sebelumnya atau naik 0,61 persen dibanding bulan Juni. Kondisi inflasi yang mengalami peningkatan terpantau sejak Maret lalu.

“Angka inflasi sudah melebihi 0,29 persen, jadi angkanya sudah merah. Kita memiliki penggaris untuk melihat ini, di Juli juga melebihi angka tersebut dan penggarisnya sudah merah. Dari April hingga Juli angka inflasi sudah merah,” ungkapnya.

Kondisi ini kata Rizki harus diwaspadai sebab dikhawatirkan Sulsel akan keteteran i akhir tahun menghadapi inflasi ini. “Ini harus diwaspadai jangan sampai di akhir tahun kita kebakaran jenggot,” tegasnya.
Adapun komoditi yang menyumbang peningkatan inflasi Sulsel antara lain emas, beras, tomat, cabai, ikan, minyak goreng dan rokok.

“Sebetulnya apa sih yang menyebabkan inflasi Sulsel meningkat, yang pertama emas dan rokok. Kedua komoditi ini di luar kendali kita. Emas mengalami peningkatan harga karena nilai tukar dolar sehingga harga emas ikut menguat,” ujarnya.

“Untuk beras mengalami inflasi sebesar 9,6 persen. Ini dipengaruhi juga kasus oplos beras yang sempat heboh. Tomat naik hingga 100 persen, termasuk cabai, ikan, dan minyak goreng,” sambung Rizki.
Lebih jauh dalam kondisi perekonomian dan inflasi yang mengalami peningkatan, BI mengimbau agar berbagai pihak ikut serta dan berkolaborasi.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *