KATARAKJAT.COM,PALOPO–Siap mengabdi di masyarakat, Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo baru saja mengukuhkan 648 alumni pada wisuda sarjana dan magister Periode I tahun 2026.
Adapun prosesi wisuda di gelar di Auditorium Phinisi yang terbagi dua sesi, sesi I digelar Rabu 23 April dan Sabtu 25 April 2026. Masing-masing sesi diikuti 324 peserta.
Wisudawan terbaik program Magister Tingkat Universitas diraih Wulandari, S.Psi., M.Sos dengan IPK 4,0 dengan masa studi 1 tahun 6 bulan. Sementara wisudawan terbaik program sarjana tingkat universitas diraih Tria Giftia, S.Pd dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI), dengan IPK 4,00 dan masa studi 3 tahun 5 bulan.
Ia merupakan seorang hafizah 5 juz, peserta teladan pada Pekan Ilmiah antar mahasiswa PGMI se-Indonesia tahun 2022 serta pemenang The Most Unique Media Exhibition yang diselenggarakan di UINITAL Timor Lorosae tahun 2024.
Sementara itu, menyampaikan Pesan Al Jamiah, Rektor UIN Palopo, Dr. Abbas Langaji, M.Ag mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran para orang tua wisudawan. Ia juga memberi hormat kepada Guru Besar, Prof. Said Mahmud, Prof. Rusdiana, serta para guru lainnya. Juga Camat Sabbang Selatan Kabupaten Luwu Utara, Yusuf, S.Ag., M.M sosok yang dulu menempanya.
Pada sambutannya, rektor memulai contoh kertas ukuran 50 cm. Sebagai seorang sarjana/magister, pertanyaannya, bagaimana kertas ini kelihatan lebih pendek?
Boleh jadi Anda katakan dilipat, lebih frontal lagi dipotong, apa lagi? Digulung malah lebih pendek, habis. “Nah, itu kita lakukan untuk menjadikan lebih pendek, dilipat, dipotong, digulung,” ujarnya.
Mengapa kita tidak berpikir, di dunia yang tingkat persaingannya semakin keras, kita tidak berpikir di luar konteks? Untuk menjadikan kertas ini lebih pendek, carilah dan hadirkan kertas yang lebih panjang.
Kertas yang awalnya 50 cm, dengan menghadirkan kertas lebih panjang, maka 50 cm terlihat pendek. Kalau mau kertas panjang ini kelihatan lebih pendek, maka carikan saja yang lebih panjang lagi.
“Hadirin yang berbahagia, itu perumpamaan sederhana dari mistar atau kertas. Bahwa dalam hidup yang penuh persaingan, terkadang kita harus keluar dari konteks, melakukan hal yang out of the box,” sebut Alumni UIN Palopo tahun 1998 ini.
Mampu Menyesuaikan Diri
Seperti teori Darwin, kata Dia, ada yang bilang manusia berasal dari kera. Padahal, Darwin tidak pernah mengatakan manusia diciptakan dari kera.
Yang Darwin katakan, yang bisa bertahan hingga saat ini adalah hasil seleksi alamiah. Teori Darwin itu disempurnakan oleh Herbert Spencer, dimana untuk bisa survive di tengah persaingan adalah yang paling bisa menyesuaikan diri.
Kembali dalam konteks kertas. Untuk menjadikan kertas lebih pendek, biasanya kita saksikan bahwa seseorang ketika ingin kertasnya lebih pendek, dia lipat, dia robek.
“Tidak usah kita cerita pemilihan presiden, terlalu tinggi. Pemilihan gubernur, terlalu jauh. Bupati, walikota juga masih jauh. Nah untuk memilih kepala desa pun, antar calon kadang saling melipat, saling merobek, hanya untuk dikatakan yang terbaik,” ungkapnya.
Terkadang kita rela merobek saudara kita sendiri. Nah, maukah kita dan sanggupkah kita untuk memperoleh predikat terbaik itu? Relakah kita hanya untuk jabatan kepala desa merobek saudara sendiri?
“Saya sebut kepala desa karena di sini ada adik saya, Bojes atau Isran Kadir Passan seorang Kepala Desa. Silakan berdiri. Saya bangga adik saya ini, di tengah kesibukannya, masih mampu menyelesaikan studinya, apalagi mempromosikan kampus ini di masyarakatnya,” sebutnya.
Kembali ke konteks tadi, kata Abbas, terutama adik-adikku wisudawan. Untuk menjadi unggul, terbaik dalam persaingan, tidak harus merobek saudara-saudara kita, tidak harus melipat saudara kita.
Caranya, lakukan yang terbaik dari apa yang ada saat ini. “Kita bisa menjadi orang baik tanpa menyebut yang lain orang jahat. Kita bisa menjadi orang pintar tanpa menyebut orang lain bodoh. Kita bisa menyebut diri kita cantik tanpa menyebut yang lain jelek,” terangnya.
Lakukanlah, tunjukkan yang terbaik. Bahkan alam pun melihat Anda lebih baik dari yang lain, lebih pintar dari yang lain, lebih hebat dari yang lain.
Kuncinya Integritas
Ditambahkannya, Bapak, Ibu, wisudawan sekalian. Tiga hari yang lalu, Wakil Menteri Kemendiktisaintek, Prof. Stella menyampaikan warning dan ancaman kepada kita semua.
Apa pernyataannya? Sekarang ini, alumni sarjana komputer sedikit demi sedikit kehilangan pekerjaan karena AI. Padahal belasan tahun lalu semua orang berpikir bahwa mereka yang ahli komputer pasti hebat dan akan bisa memasuki lapangan pekerjaan
“Kalau pernyataan Prof. Stella kita bawa ke UIN, dengan adanya AI, alumni UIN Palopo akan kehilangan kesempatan bekerja, saya menjawab tidak. Bapak/Ibu, anak-anakku sekalian, wisudawan wisudawati kita harus menjawab tidak,” ujarnya.
Karena selama seseorang memegang mata uang universal, di mana pun dan kapan pun, dengan siapa pun dia bekerja dan berkarya, pasti akan dapat kesempatan itu. Nah apa itu? Integritas.
Diceritakannya, sebelum naik ke podium ini, tiga hari lalu ada seorang alumni UIN tahun 2010 menyampaikan salam. Dua hari lalu, melalui sepupunya yang wisuda.
Saya tidak pernah membayangkan kondisinya ketika dulu kuliah. Pada saat kuliah, hampir saya katakan naudzubillah pada sosok ini.
“Dia pun berkabar kepada saya, Alhamdulillah Kak, hari ini saya menjadi dosen dan terikat pada suatu kampus swasta di Batam,’ ujarnya.
Padahal kata dia, kalau dipikir saat ia kuliah, agak konyol yang dilakukannya. Nah, yang konyol saja bisa jadi dosen, apalagi yang ber-IPK 3 koma sekian-sekian.
Selama memegang teguh dan memanfaatkan mata uang universal, yaitu integritas. Jika Anda mampu menjaganya, ke mana pun Anda mencari pekerjaan, bukan Anda yang mencari perusahaan, tapi perusahaan dan pekerjaanlah yang memburu Anda.
Ditambahkan pula, saya tidak pernah membayangkan bahkan tidak sempat berpikir, seorang alumni Tafsir, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT). Terlalu berat perusahaannya untuk melepaskannya. Awalnya ia seorang buruh kasar, tapi hari ini ia mendapatkan posisi terhormat di IMIP Morowali.
Ia alumni IAT. Apa modalnya? Seberapa tahu anak IAT tentang nikel, tentang segala macam? Bisa dikatakan nol. Tapi modalnya, memegang mata uang universal, menjaga integritas, berhasil menunjukkan bahwa dia orang yang jujur, layak dipercaya.
Bahkan suatu waktu ketika dia diperhadapkan pada situasi, dia tidak menyangka kalau itu adalah ujian atas kerjanya. Ada sebuah pertanyaan, jawabannya hanya sederhana. Dia hanya menjawab “Iya Pak, saya alumni IAIN/UIN Palopo,” sebut Abbas menirukan perkataan alumni IAT.
Mendengar hal itu, ungkap Abbas, itu membuat dirinya terharu. “Kami pun, saya beserta dosen-dosen lainnya, berharap nantinya bisa mendengar kabar baik dari alumni sekalian,” tutup Abbas.
Sementara itu, di sela-sela acara, panitia menayangkan video rekaman Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.Ag. Mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan memberi wejangan agar alumni UIN Palopo mampu menyelaraskan kecerdasan akademik dan adab.
“Selamat dan sukses wisudawan-wisudawati. Saya berharap kalian mampu memadukan kecerdasan akademik dengan kerendahan hati. Teruslah berkarya dengan tetap menjaga integritas dan nilai-nilai luhur almamater,” ujar Menag dalam rekaman yang ditayangkan di Auditorium Phinisi.
Untuk diketahui, Prosesi wisuda sesi II yang diikuti 324 peserta berlangsung khidmat dengan balutan seleber hijau tua dan hijau muda pada jubah wisuda. Selepas pemindahan tali toga dilanjutkan pembacaan ikrar alumni yang diiringi lagu Indonesia Pusaka, menambah suasana haru.
Tampil sebagai perwakilan wisudawan sesi II, Muhammad Dirga Saputra, S.H, ia merupakan finalis Debat Konstitusi Bawaslu RI tahun 2023 dan Koordinator DEMA/BEM PTKIN se-Indonesia Wilayah Sulawesi periode 2025-2026.
Dengan suara parau dan mata berkaca-kaca, Dirga menyampaikan pidatonya. “Saya ingat betul dari mana kita datang dari kampung jauh. Dalam prosesnya, kita terkadang jatuh di titik terendah, tapi kita tidak pernah mundur karena ingin menuntaskan tanggung jawab kepada orang tua,” sebut Ketua Dewan Mahasiswa UIN Palopo Tahun 2025 ini.
Ia melanjutkan, “Kami tahu bagaimana kondisi ekonomi kalian, tapi kalian ingin kami sukses. Kawan-kawan sekalian, mungkin masih ada yang sunyi, ada kerinduan mendalam. Ada yang orang tuanya sudah wafat, bahkan kedua-duanya,” ujarnya.
Dirga mengajak seluruh wisudawan menoleh ke samping, melihat orang tua yang telah setia menunggu. “Peluklah beliau,” katanya.
Ia pun turun dari podium, membawa bunga, lalu memeluk ayahnya. Banyak peserta yang terisak menyaksikan suasana haru. MC pun mengajak seluruh wisudawan berdiri bersama orang tua, memeluk, dan mengucapkan terima kasih.
Tampak kebanggaan dan haru menyelimuti Auditorium Phinisi. Para orang tua yang hadir tak kuasa menahan air mata, menyaksikan putra-putri mereka akhirnya menyandang gelar sarjana dan magister.
Di tengah tantangan zaman yang kian keras, di era AI. Pesan integritas yang digaungkan rektor seakan menjadi kompas bagi para alumni untuk melangkah ke dunia yang sesungguhnya.(*)













