Nakhoda Golkar Sulsel, IAS Paling Berpeluang

  • Bagikan

KATARAKJAT.COM,MAKASSAR–Sejumlah pengurus DPP Golkar menyebut hanya tersisa dua nama calon kuat yang akan bertarung dalam Musyawarah Daerah (Musda), yakni Ilham Arif Sirajuddin (IAS) dan Andi Ina Kartika Sari.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Prof Armin Arsyad, menilai idealnya sosok ketua Golkar Sulsel adalah figur yang memiliki keseimbangan dukungan, baik dari tingkat bawah maupun dari pusat.

“Menurut saya, ketua Golkar Sulsel itu hendaknya disukai dari bawah dan diterima dari atas. Sehingga ada keseimbangan antara keinginan pimpinan pusat dengan massa Golkar dari bawah, itu idealnya,” ujarnya, Minggu 3 Mei 2026.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa dinamika Musda tetap akan ada pertarungan antar kandidat. Baik kubu Ilham maupun kubu Andi Ina disebut akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk memenangkan dukungan.

“Jadi masing-masing kandidat tentu berupaya untuk memenangkan pertarungan, baik dari kubu Ina maupun kubu Ilham,” lanjutnya.

Armin juga menyoroti aspek gender dalam pertarungan kali ini. Menurutnya, Golkar Sulsel belum pernah dipimpin oleh perempuan, sehingga peluang Andi Ina membawa warna baru dalam kepemimpinan partai cukup terbuka.

“Kalau perempuan yang memimpin, ya mungkin lain maknanya dibanding selama ini yang dipimpin laki-laki,” katanya.
Lebih jauh, Armin menekankan bahwa hasil Musda sangat ditentukan oleh pemilik hak suara, khususnya DPD II (kabupaten/kota) serta organisasi sayap partai.

“Yang menentukan itu DPD II yang memegang suara, ditambah beberapa organisasi sayap. Jadi masing-masing aktor politik tentu berusaha memenangkan dirinya,” jelasnya.

Kedua kandidat dinilai sama-sama memiliki pengalaman dan kemampuan yang memadai. Ilham dikenal sebagai mantan Wali Kota Makassar dua periode, sementara Andi Ina pernah menjabat Ketua DPRD Sulsel dan kini menjadi kepala daerah.

“Dua-duanya memiliki kapasitas kepemimpinan yang mumpuni. Jadi akhirnya tergantung DPP dan DPD yang punya hak suara di Musda,” ujarnya.

Terkait tidak masuknya nama Munafri Arifuddin dalam daftar dukungan mayoritas, Prof Armin menilai hal itu dipengaruhi isu kurangnya dukungan dari DPP.“Karena ada isu Pak Appi tidak dapat dukungan dari DPP. Tidak enak kalau dia kuat di bawah tapi tidak direstui di atas,” katanya.

Prof Armin menilai, untuk memenangkan Musda, baik Ilham maupun Andi Ina perlu membangun kedekatan dengan para pemilik suara di daerah.

“Ada kedekatan pertemanan, keluarga, organisasi, bahkan pengaruh antar teman. Ini yang bekerja adalah public relation—siapa menghubungi siapa, siapa mempengaruhi siapa,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dinamika politik internal sering kali tidak sepenuhnya bisa diprediksi, karena adanya potensi perubahan pilihan dari para pemilih.
“Pemilih kadang tidak konsisten. Di satu sisi janji, di sisi lain bisa memilih yang lain. Itu yang membuat pertarungan ini sulit dipastikan hasilnya,” pungkasnya.

Kasus Andi Ina
Sementara itu, Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari diketahui masih tersangkut dalam sejumlah kasus mega proyek di Sulsel.

Bahkan, ia sampai dipanggil dan dimintai keterangan oleh KPK hingga Kejati Sulsel beberapa waktu lalu.
Beberapa kasus yang turut menyeret nama Andi Ina saat masih menjabat sebagai Ketua DPRD Sulsel lalu, yakni, pada Oktober 2022, lalu, KPK memanggil Andi Ina sebagai pimpinan DPRD Sulsel terkait kasus suap pemeriksaan laporan keuangan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel yang menyeret mantan Sekertaris PUPR Sulsel, ER.

Lalu, terbaru, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan kembali memeriksa mantan pimpinan DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari atas dugaan penyimpangan dalam perencanaan anggaran pengadaan bibit nanas senilai Rp60 miliar. ‎

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sulsel, Soetarmi, mengatakan pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari pendalaman penyidikan yang tengah berjalan.‎

Ia menjelaskan, selain Andi Ina, total terdapat sembilan orang mantan anggota DPRD Sulsel yang dipanggil bersama satu orang sekretaris dewan. Namun, satu orang di antaranya tidak memenuhi panggilan penyidik.‎

“Yang dipanggil sembilan orang mantan anggota DPRD Sulsel dan satu orang sekretaris dewan. Pemeriksaan masih berlangsung di atas,” katanya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *