*Tidak Cukup Pintar Otak Saja, Disampaikan di Kuliah Umum UIN Palopo
KATARAKJAT.COM,PALOPO – Agar bangsa Indonesia menjadi bangsa berperadaban, kampus mesti mencetak lulusan bermoral dan berintegritas. Kecerdasan otak saja tidak cukup jika tidak dibarengi akhlak yang baik.
Demikian disampaikan tokoh nasional, Prof Dr Mohammad Mahfud MD, M.IP, saat memberikan kuliah umum kepada civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo serta masyarakat Tana Luwu di Auditorium Phinisi UIN, 15 Juni 2026 lalu.
Turut hadir pada kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Palopo, Dr Ahmad Syarifuddin Daud, Rektor UIN Palopo, Dr Abbas Langaji M.Ag, Rektor IAKN Toraja Prof Dr Agustinus Ruben M.Th, Direktur Politeknik Dewantara (Polidewa) Palopo, Dr Suaedi, S.Pd, M.Si, Rektor UKJP, Prof Dr drg Mansur Nasir PG serta para pimpinan dan dosen perguruan tinggi se-Tana Luwu.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengkritisi sistem pendidikan yang hanya fokus pada kemampuan teknis dan mengabaikan pembentukan akhlak. Menurutnya, pondasi moral semakin lama semakin dikurangi di lingkungan kampus bahkan sejak sekolah dasar.
“Pendidikan budi pekerti, akhlak, pendidikan agama justru makin dikurangi. Nasionalisme, sejarah bangsa, rasa cinta tanah air tidak lagi ditanamkan sungguh-sungguh. Pendidikan hanya fokus pada matematika, teknologi informasi, kemampuan teknis.
“Mereka pintar secara otak, padahal watak yang utama, mestinya ini digabungkan keduanya,” ungkapnya sembari melipatkan kedua tangannya dengan Jari tertaut.
Mantan Menkopolhukam di era Joko Widodo ini membandingkan dengan lulusan sebelum tahun 1980-an yang masih memiliki rasa malu, harga diri, dan cinta negara. Sekarang, kata Mahfud, bahkan koruptor berani memaki koruptor lain.Sesama koruptor pun saling membenci.
“Pernah saya jumpai seorang mantan koruptor mencaci maki koruptor lain yang baru keluar dari penjara, katanya kamu tidak sopan terhadap tokoh bangsa. Padahal kamulah sebenarnya tidak menghormati bangsa ini, karena dulu juga pernah menjadi koruptor dan baru saja bebas,” sebutnya.
Dikatakannya, Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Akhlak kurang ditanamkan dalam proses pendidikan kita. Sistem pendidikan kita hanya melatih membaca buku dan referensi dari Barat, lalu ke laboratorium, menguasai ilmu pengetahuan alam, dan selesai begitu saja. Masalah moral dianggap bukan urusan sekolah.
“Ini karena akhlak kurang ditanamkan. Sistem pendidikan kita hanya melatih membaca buku dan referensi Barat, ke laboratorium, menguasai ilmu pengetahuan alam, lalu selesai. Moral dianggap bukan urusan sekolah dan kampus,” ucapnya.
UIN Palopo Harus Jadi Contoh Integrasi Ilmu dan Agama
Mahfud mengakui bahwa kampus kerap menjadi sasaran gugatan publik. Pasalnya, masih banyak pejabat korup padahal mereka lulusan perguruan tinggi.
“Data menyebutkan 86 persen koruptor di Indonesia adalah lulusan sarjana. Ada yang profesor dan doktor. Lalu orang bilang, ‘Berarti perguruan tinggi melahirkan koruptor?'” ujar Mahfud.
Namun ia mengingatkan agar tidak salah sasaran. Dari total 275.000 narapidana di Indonesia, hanya sekitar 1.250 orang yang terjerat kasus korupsi. Dari jumlah itu, 86 persennya atau sekitar 950 orang adalah lulusan sarjana.
“Jadi persentasenya sangat kecil dibanding pelaku kejahatan lain seperti pencurian, perampokan, narkoba. Anggapan bahwa perguruan tinggi gagal itu salah sasaran,” tegasnya.
Ia menyoroti perubahan IAIN menjadi UIN sebagai langkah maju. Ajaran agama harus bertemu dan berpadu dengan ilmu pengetahuan serta teknologi secara utuh.
“UIN-lah yang paling bertanggung jawab mencetak generasi muda yang berilmu sekaligus bermoral. Di sini berbagai disiplin ilmu dikaitkan dengan nilai-nilai luhur,” pesannya.
Pakar Hukum Tata Negara ini mengingatkan bahaya praktik ijazah palsu dan “universitas ruko” yang pernah marak pada 1990-an. Saat itu ada istilah “ijazah tiga dalam satu”, yakni sarjana, magister, doktor bisa dibeli.
“Itu jangan lagi terjadi,” ungkapnya.
Mahfud juga mengingatkan mahasiswa UIN Palopo dan lainnya agar nantinya tidak menjadi “intelektual tukang” . Intelektual yang menjual keilmuan sesuai pesanan dan bayaran, meninggalkan norma, etika dan moral.
“Jangan sampai ada lulusan UIN Palopo yang berkata: ‘Mau saya katakan ini halal atau haram? Tergantung bayarannya. Kalau halal saya ambil dalil dari Bukhari, kalau haram saya pakai hadis Muslim’,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga mengkritik praktik survei pesanan dan “mafia hukum” yang merusak sistem dari hulu ke hilir. Termasuk proses pembuatan undang-undang di DPR.
“Pendidikan yang tidak dibangun di atas nilai agama dan kearifan budaya akan melahirkan saling menyandera. Koruptor tidak diusut karena dia memegang rahasia orang lain,” paparnya.
Untuk itu, kampus harus Kembali ke filosofi pendidikan. Dimana pada pasal 31 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan sistem pendidikan nasional meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Disitu disebutkan mercerdaskan kehidupan bangsa, berarti mencerdaskan otak dan watak. Bukan mencerdaskan otaknya saja,”
Guru Besar UII Jogjakarta ini mencontohkan kearifan lokal Tana Luwu yang disampaikan oleh Raja Luwu saat ia berkunjung di Kedatuan Luwu. Yang mengajarkan pemimpin tidak boleh kaya sebelum rakyatnya sejahtera. “Nah itu nilai luhur yang harus menjadi dasar sistem pendidikan kita,” pungkasnya.
Sementara itu, dengan suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai Kuliah Umum bersama Profesor Mahfud MD di Auditorium Phinisi. Rektor UIN Palopo, Dr Abbas Langaji, M.Agdalam sambutannya mengungkapkan bahwa keberadaan Program Studi Ahwal Siyasah Syar’iyah atau Hukum Tata Negara di kampusnya lahir dari kekaguman terhadap negarawan Mahfud MD.
“Terinspirasi dari pemikiran dan kenegarawan Prof, disini Prof ada banyak pengagum Prof, termasuk pimpinan kami sebelumnya. Diibawah kepemimpinan guru kami, Prof Abdul Pirol, M.Ag, tim kami sangat mengidolakan negarawan bernama Mahfud MD,” ujar Abbas di hadapan para pejabat pemerintah daerah, pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan tokoh masyarakat.
Ia mengakui, menghadirkan langsung tokoh sekaliber Mahfud MD ke Palopo bukanlah hal mudah. “Kami berpikir, bertemu negarawan itu saja sudah sulit, apalagi menghadirkannya ke sini. “Sudahlah, kita buat saja program studi ini sesuai dengan kepakaran beliau, dengan harapan suatu saat nanti Prof Mahfud bisa hadir di tempat ini,” ungkapnya.
Kedatangan Mahfud MD yang tiba di Bandara Lagaligo, Bua Palopo pukul 14.35 Wita, Ahad 14 Juni disambut antusias. Dengan agenda yang begitu padat ia mengisi kuliah pakar mahasiswa program doktor UIN palopo.
Selanjutnya di malam hari, ia menyempatkan diri berkunjung di Kedatuan Luwu yang diterima langsung Datu Luwu XL, Sri Paduka H. Andi Maradang Mackulau, S.H yang merupakan teman kuliahnya di UII Yogyakarta 40 tahun yang lau.
Dalam sambutannya Dr Abbas mempersilakan para tamu membawa pulang tumbler dan buku yang disediakan di meja masing-masing sebagai pengganti air kemasan. “Tumblernya memang untuk Bapak dan Ibu semua,” ujarnya.
Rektor UIN Palopo juga menyampaikan apresiasi kepada para hadirin yang datang dari jauh, ada yang tiga jam-an dari sini. Termasuk Rektor IAKN Toraja yang ikut hadir.
“Harapan terbesarnya, selain mendengar ceramah langsung dari Prof Mahfud MD, Pak rektor IAKN bisa berfoto bersama Prof Mahfud,” ungkapnya dengan candaan ringan disambut tawa peserta.
Titip DOB Tana Luwu
Sementara itu, mewakili Walikota Palopo, Wakil Wali Kota Palopo, Dr Ahmad Syarifuddin Daud menyampaikan salam hangat dari Wali kota Palopo, Hj Naily Trisal yang tidak sempat hadir bersamaan dengan kegiatan lainnya.
Wakil Walikota mengungkapkan bahwa saat ini, empat kabupaten dan kota di wilayah eks Kabupaten Luwu terus berjuang mewujudkan cita-cita pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB). Usulan ini didasari pertimbangan jarak tempuh dan rentang kendali pemerintahan yang cukup jauh dari pusat provinsi.
“Juga merupakan janji Politik Presiden Sukarno diawal kemerdekaan kepada Raja Luwu, saat itu,” sebutnya.
Mohon izin, saya sampaikan aspirasi ini dengan harapan melalui Bapak Prof yang merupakan tokoh nasional, kenal baik dengan tokoh-tokoh bangsa lainnya.
Dapat menjadi jembatan dan penghubung sehingga cita-cita tersebut dapat terwujud.
Ahmad Syarifuddin yang juga merupakan mantan ASN UIN Palopo selama 15 tahun itu juga menceritakan proses panjang yang dilalui pemerintahannya saat ini. Ia mengungkapkan sempat menghadapi dua kali persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) sebelum akhirnya dilantik.
“Untungnya saat itu Bapak Prof. sudah tidak menjabat sebagai Ketua MK,” selorohnya disambut tawa peserta.
Lebih lanjut, ia menitipkan harapan agar Mahfud MD, yang kini dikenal sebagai tokoh kritis dan mandiri, dapat menjadi jembatan bagi daerah yang cukup jauh dari pusat provinsi Sulawesi Selatan.
“Semoga sekembalinya ke Jakarta, selalu terngiang bahwa ada daerah otonom yang cukup jauh. Perjalanan ke sini bersyukur jika naik pesawat, jika lewat darat tentu butuh tenaga dan waktu tidak sedikit. Semoga Bapak Prof. dapat menjadi jembatan bagi kami,” pintanya.
Untuk diketahui pada Kuliah Umum, dibuka sesi dialog, beberapa pertanyaan hadir mulai dari Direktur Polidewa Palopo, Dr Suaedi, Guru Besar UIN serta salah orang mahasiswa.
Diakhir kegiatan, UIN Palopo menyerahkan buku sejarah UIN Palopo dari masa ke masa, cindera mata serta baju bertuliskan UIN Palopo kepada Prof Mahfud serta Wakil Wali Kota Palopo, Dr Ahmad Syarifuddin Daud.(*)













